sa

Selamat datang di WeBlog Imaduddin.B, Amd.AK

Rabu, 29 September 2010

NATURALNYA FILM “ALANGKAH LUCUNYA NEGRI INI”

Saya baru tahu kenapa filam Alangkah Lucunya Negri Ini di sensor, saya liatnya kaya liat orang gagu bicara, saya harus baca teksnya padahal film ini adalah film Indonesia. Sungguh malang, kenapa film seperti ini harus mendapat perlakuan diskriminasi.
Dari berbagai dimensi rasanya terwakili oleh film yang di garap secara apik ini. Film yang menurut saya mempunyai kekuatan untuk membuat malu para wakil rakyat yang sekarang mulai menjadi – jadi tingkah lakunya.
Dari setiap berita yang saya ikuti, perjalanan study banding para wakil rakyat yang menurut saya hanya menghamburkan uang rakyat saja. Ironni memmang punya wakil rakyat yang demikian, kepramukaan saja harus study banding, entah apa lagi yang akan di bandingkan yang padahal tujuannya hanyalah jalan – jalan semata.

Memang benar apa yang termuat dalam filam tersebut, negri ini sangat amat lucu, wakil rakyat dilindungi, telah lewat kasus MARKUS, sekarang skenario baru dibentuk untuk mengalihkan pandangan masyarakat terhadap kasus – kasus yang telah diangkat, MK, pejabat – pejabat yang terlibat, Kepolisian, dll.
Wah sudah kayak kritukus negri ini saja kalo terus – terusan ngomongin seperti ini.

Balik lagi ke Film, seharusnya film seperti ini ngga harus di sensor segala. Kenapa negara ini malu mendapat kritikan macam ini, seharusnya mereka pada ngaca dan harus mengubah sektor – sektor tersebut. Kemiskinan, terlantarnya anak – anak, eksploitasi, SDM yang kurang, huh.. ayo dong majukan negri ini, biar ngga tergerus zaman.

KAMI PUNYA MIMPI

Setiap manusia punya mimpi, begitu pulalah dengan Kami. Kini kami sudah 2 tahun lebih turun lereng perguruan, mengabdikan kehidupan Kami untuk negri ini, tapi keadaan Kami tidak luput dari ombang ambingnya pemerintahan daerah dimana Kami berdiri. Keberadaan Kami yang masuk ke lembaga daerah dan perusahaan swasta mampu menggerakkan dunia kesehatan diwilayah tersebut.

Namun, adakalanya Kami mengikuti kesempatan yang diadakan oleh pemerintah daerah dengan menyediakannya formasi sebagai pegawai negri di PEMDA – PEMDA. Tak ayal dari sebagian Kamipun antusias mengikuti acara akbar (mirip hajatan, begitu Kami menyebutnya) ini.
Kesempatan inipun merupakan sebuah kesempatan bagi Kami dan oknum yang menyelenggarakan hajatan ini, dari sebagian Kami ada yang sampai membayar berapapun uang untuk mendapatkan posisi tersebut. Ini adalah kisah dilapangan. Kejadian dimata kepala Kami, ajang ini hanya seremonial, jadi posisi tersebut hanya untuk orang – orang yang mempunyai uang bukan menghargai sumberdaya manusia yang memiliki kualitas. Alhasil jangan disalahkan jika sebagian PNS adalah rayap negara.

Sebgian lagi dari Kami memimpikan membuka usaha sendiri, mandiri dari tangan imperialis. Namun perjalanan waktu masih menguji mental – mental Kami dilapangan. Kami harap, Kami bisa setegar karang dalam menghadapai era ini, era yang menomorsatukan uang, era ketidakpercayaan akan sumber daya yang baik, serta menomor akhirkan kwalitas manusia.